Bicara dengan seorang “ahli komputer” malam ini, gua tersadarkan oleh satu fakta: betapa mahalnya harga sebuah kesadaran dan pengetahuan. Ahli komputer ini, yang seharusnya sangat akrab dengan pola dan urutan pikiran yang runut dan rasional, ternya mengalami kesulitan untuk menentukan perspektif dan paradima pola pikirnya sendiri. Pada satu saat dia menjadi seorang determinis, beberapa detik kemudian menjadi seorang yang kritis, lalu tiba-tiba mendeklarasikan diri menjadi seorang empirisis. Padahal, kata-kata yang disemburatkan dari mulutnya tidak lebih dari pembenaran dan konfirmasi diri terhadap pendapat pribadinya, sekaligus apologi.
Buat dia, kesadaran seseorang tidak bisa diubah oleh faktor eksternal orang tersebut. Segalanya berasal dari dalam. Jelas asumsi dasarnya adalah tiap manusia adalah manusia bebas yang memiliki pilihan. Tiba-tiba dengan lantang dia bilang bahwa yang bisa mengubah hanya Tuhan. Artinya buat dia manusia adalah makhluk yang dikooptasi oleh Tuhan secara mutlak. Identik dengan paradigme pemikiran teokrasi pramodern Abad Kegelapan Eropa ’kan? Luar biasa sekali melihat dia berargumen berdasarkan asumsi dasar yang berpindah-pindah dari corak pemikiran postmodern lalu ke pemikiran teokrasi secara cepat dan otomatis. Luar biasa menyedihkan.
Tapi, itulah memang masalah mendasar orang-orang di zaman global ini, yang sarat dengan ideologi. Tiap hari mereka menerima informasi dan menguasai teknologi, tapi dari segi pemikiran, hal-hal ideologis yang tampak mata tidak tertangkap. Yang muncul adalah zombi-zombi hidup yang wara-wiri di arus deras hal-hal remeh kehidupan global. Percakapan dan dialog kerap terbentur di aspek-aspek teknis, tak ada upaya dekonstruksi pemikiran atau evaluasi total terhadap kerangka perspektif.
Menyedihkan? Memang! Pesimistis? Jangan!
Palmerah
Jumat, 090207
Friday, February 9, 2007
Sunday, January 14, 2007
No Logo: Naomi Klein

No Logo
by Naomi Klein
"I've always been drawn to the shiny surface of pop culture. When I was a kid I was mesmerized by the 3-D moulded plastic of franchise signs. I would stare at them as our station wagon sped past: Shell, McDonald's, Texaco, Burger King. If I could climb up and touch them it would be like touching something from the world of TV; smooth, flawless, cartoon-like. I did once - somebody gave me a Shell key chain with its very own bright yellow plastic shell. I was so disappointed. It was just a piece of junk."
Forget Generation X and say hello to Generation Why. Are you drawn to the shiny surface of pop culture? Have you ever tried to be different but yet sung along with a commercial, bought designer trainers, drunk Coca-Cola or hummed chart music? If you have, you're one of us. In a world in which all that is 'alternative' is sold as soon as it appears, where any innovation or subversion is immediately adopted by un-radical, faceless corporations, gradually, tentatively, a new--our--generation is beginning to fight consumerism with its own best weapons; and the first skirmishes in this war are what this abrasively intelligent book documents brilliantly. This is culture jamming.
Satu buku bagus yang bisa ikut mewaraskan kita di tengah bisingnya lagu pengiring tarian globalisasi.
AL
Jan 14, 07
Subscribe to:
Posts (Atom)
